Minggu, 28 Juni 2015

sepucuk surat untukmu..


Untuk kesekian kalinya Allah mengirimkan perantara-Nya.
kembali ku ucapkan syukur atas segala yang telah Engkau anugerahkan pada hambaMu yang masih saja sempat lalai dan malas untuk kembali berusaha taat kepadaMU, tapi nikmatMu Rabb... begitu melimpah ruah, tak bisa ku hitung dan kusebutkan satu persatu. Ya Rahman Ya Rahiim..
1 tahun, ya mungkin setidaknya 1 tahun kau beri aku kesempatan untuk bertemu seseorang yang kau tetapkan sebagai kawan seperjuangan, bersamanya membuatku merasa tak ada yang perlu disesalkan. 
Rabb.. kau tunjukkan si penunjuk jalan.. kau beri aku teman untuk menemaniku selama aku mencari dimana mutiara hikmah yang telah Engkau Janjikan disetiap kesulitan. 
Sesuai titahMu, ia akhirnya selalu menemani kesendirianku, menjawab setiap pertanyaanku, dan tersenyum ketika aku hanya bisa mengeluhkan diri, disetiap persimpangan jalan dia selalu cepat menarik tangan ini dan mengatakan bahwa dirimu salah mengambil jalan..
hari - hari yang Engkau anugerahkan membawa kami menjadi semakin saling menyayangi, puluhan shubuh kami telah lewati, kemudian pagi, lalu siang, beranjak sore, dan akhirnya malam.. kami lewati atas izinMu Rabb..
beribu kalam hikmah aku terima, nasihat nasihat itu sungguh aku rindu kini..
namun, waktu nampaknya kian cemburu, genggaman tangan kami nampaknya membuatnya menjadi enggan kembali memberi kami kesempatan, untuk bersuka ria bersama..
ya.. waktunya pun akhirnya tiba, sesuatu yang pernah menjadi mimpi buruk di salah satu malamku, kini ubahnya telah menjadi kenyataan.. aku tak mau menyebutkan kata itu, karena saat tangan mulai melambai ku pikir inilah akhir dari kebersamaan..

 
Raihan, disaat akhir kita bertemu saat binar matamu mulai memerah.. saat pelukku begitu erat mendekapmu, sebenarnya ingin ku katakan terimakasih atas segalanya.. terimakasih kau telah membantuku untuk bisa mencapai target hafalanku, terimakasih atas segala ilmu yang kau bagi pada diri ini, terimakasih telah membangunkanku saat shubuh, saat hendak sholat ashar atau isya, terimakasih setiap senyum yang kau beri, terimakasih telah mengajakku untuk sama sama mempelajari tahsin, terimakasih telah mengajarkanku kesederhanaan, terimakasih telah mengajarkanku cara berhemat, mengajakku untuk rajin bersedekah, dan banyak lagi hal yang kita selalu lakukan bersama terimkasih rehan :')
sungguh... maaf aku tak bisa membuatmu bahagia bersamaku, ku hanya menambah beban karena keluhanku, egoku, dan kelakuanku, yang membuatmu geleng geleng kepala. Benar Benar aku meminta maaf ..
selamat berjuang kembali! rinduku disini untukmu.. semoga Allah berikan kita kesempatan untuk kembali dalam kebersamaan...
terimakasih Raihan Nurbaiti.

Kamis, 04 Juni 2015

PRAJURIT SAINTEK ^^

Cianjur.
Kamis, 21 Mei 2015- Hari ini mesin pencetak sejarah itu mulai beroperasi, tepat diangka 17!
ya! gerakan Saintek (Santri anti nyontek), orasiku tadi pagi benar ku datangkan dari hati mengajak mereka untuk segara kembali dan menjauh dari penyakit yang sulit diobati, lantang aku katakan "jangan hinakan diri kalian dengan mencontek!" seketika itu riuh tepuk tangan menghujam bagaikan gemuruh dalam badai.
entah ini pertanda baik atau buruk, sorak sorai itu entah bermakna pujian atau ejekan. Tapi sudahlah aku tak peduli biarlah anjing menggonggong dan kafilah tetap berlalu!
yang kumohon hanyalah pertolong Rabbku, cukup DIA maka aku telah mempunyai segalanya. SEMANGAT PRAJURIT SAINTEK!

Selasa, 26 Mei 2015- Syahdu malam tak selamanya sunyi, hidup tak selamanya lurus bebas hambatan dan rintangan. begitu pula gerakan SAINTEK. 4 hari berlalu sepertinya SAINTEK mulai menemui jalan terjal, hujan badai, dan terpaan topan dahsyat. Prajurit mulai gontai dan kehabisan perbekalan, mereka tak menyadari bahwa perang yang besar telah menanti untuk ditaklukkan, namun sepertinya prajurit telah kehilangan pijakan, mereka lemah tak mampu menghunuskan pedang dihadapan lawan.
satu persatu dari mereka bahkan mundur tak berani melanjutkan perjalanan. mereka kabur ! kembali kepada kejahilan
Sementara itu, perang yang lebih dahsyat ternyata tengah berkecamuk dalam dada mereka sendiri, melawan nafsu syetan yang melenakan, menyibak segala rayuan yang datang dari berbagai arah bagaikan panah - panah yang menusuk hati, membuatnya kini rapuh, dan tak karuan
BANGKIT ! MURNIKANLAH ! wahai kau MUJAHID ! lihatlah kini dirimu dalam naungan kebenaran, dalam rangkul kasih sayang Rabb semesta alam. jangan MUNDUR ! LAA TAQNATUU! dirimu seorang yang merdeka, bukan budak dari nafsumu sendiri! Bergeraklah, terus berlari menuju Rahmat tanpa batas! ku tahu kalian mampu !

Senin, 1 Juni 2015- pertempuran pun usai ! hanya sedikit dari mereka yang mampu bertahan, pita penanda anti nyontek yang dipakai itu bukanlah sekedar pita, bahkan pita itu sama sekali tak ada artinya, yang kini membuatnya menjadi lebih bermakna adalah komitmen kita bersama,.
mari menuju kemenangan bersama, dalam kesungguhan untuk mengharap keridhoanNya saja.
terserah mereka mau berkata apa. mengejek atau menghina kita akan tetap berusaha memperjuangkan panji agama NYA !