Malam mulai kehadiran bintang bintang, bulan sabit menggantung indah
di gelapnya angkasa, lukisan Sang Pencipta membuat bibir ini tak
berhenti berucap subhaanAllah luarbiasa...
Lampu masjid masih
menyala, dilantai dua para santriwati masih bersemangat melantunkan
ayat suci Al Qur'an, merdu firman firman Allah ini lantang dibacakan,
tiba tiba suara itu datang memecah keriuhan "semuanya sekarang adalah
malam pelantikan staf ikatan santri putri dan staf ikatan santri putra"
semua diam, senyap, kepalaku pun mengangguk, aku mengerti dalam hati aku
berucap "akhirnya pelantikan itu datang".
pelantikan
dipesantrenku merupakan pembai'atan atau perjanjian antara staf yang
telah terpilih dengan pihak pesantren. Ternyata tahun ini, untuk masa
jabatan kali ini, aku terpilih menjadi salah satu dari staf ikatan
santri putri yang selanjutnya disingkap ISPI, dan itu berarti malam ini
aku akan berbai'at pada pesantren disaksikan oleh pembina pesantren dan
seluruh santri putra maupun putri. Jangan tanyakan perasaan ku malam
itu, proses bai'at bukanlah hal yang biasa bagiku, ba'at merupakan janji
dan tanggung jawab besar baik itu terhadap pesantren dan sudah barang
tentu dengan Allah SWT.
Semua santri putri dan putra berkumpul di
lantai satu masjid, putra di shaf paling depan dan putri ada di shaf
paling belakang, para pembina, dan koordinator pembina memasuki
ruangan, "ciee teh sae nanti bakal resmi jadi staf " ujar raihan "yah,
semoga aku bisa menjalankan amanah ini" jawabku pelan. Koordinator
pembina maju kedepan untuk membuka acara pelantikan ini, acara
selanjutnya adalah pembacaan surat keputusan, entahlah pikiranku sedang
tak bersama ragaku, yang paling ku ingat "bagi nama - nama yang disebut
dibawah ini harap maju kedepan" yang pertama kali dipanggil adalah
ketua ikatan santri putra yang selanjutnya disingkat menjadi ISPA, nama
nama selanjutnya merupakan jajaran staf di ISPA, tibalah pembacaan ketua
ISPI dan stafnya, hati ini semakin berdebar ketika koordinator pembina
memanggil namaku "Bidang Penalaran intelektual, Saevany Nur'azizah dan
Indah Pertiwi, " tubuh ini akhirnya bangun, kaki ini melangkah maju,
bergabung berssama jajaran staf yang lainnya, hati ini terus berkata
seakan memberikan peringatan "beberapa menit lagi dirimu akan
mengikrarkan janji ! " dan benar saja setelah semua staf telah dipanggil
dan maju kedepan, tangan koordinator pembina membuka kertas
selanjutnya, dan mulai membacakan satu persatu point janji yang harus
kami ikut ucapkan, setiap janji itu terucap kepala ini semakin menunduk
seakan semakin berat beban yang ada dipundak dan dan sampailah pada
kalimat "innaasholaatii wanusuukii, wamahyaya wamamatii lillahi rabil
'alamiin, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku, untuk tuhan
semesta alam, point yang terakhir yang membuat hati ini bergetar,
mampukah aku ? bisakah aku ? besarnya tanggungjawabku dihadapan MU.
acara
selanjutnya adalah pesan atau amanat dari pembina, yang hadir di mesjid
ada 2 orang pembina laki laki yang memberikan amanat, salah satu dari
mereka menyampaikan sesuatu yang aku cari selama ini, seakan ustadz tau
isi hatiku, dan segala pertanyaan dalam segumpal daging ini, apa yang
beliau sampaikan begitu sempurna menjawab seluruh pertanyaan hati ini,
menyelesaikan kerisauan selama aku berada di pesantren ini, beliau
berkata "jika kalian bilang asrama ini, kurang ketat, kurang rame, atau
apapun itu maka seharusnya kalian tidak mengatakan seperti itu, itulah
tugas kalian disini, menjadikan ispa ispi lebih ketat lebih rame, dan
pasti lebih baik lagi" . cahaya itu seakan datang dan memberi salam, aku
tahu cahaya itu pasti tak pernah meninggalkanku, ia kini kembali
mengukir seyum dihati ini. Allah telah menitipkan pesannya melewati
ustadz di acara malam pelantikan. semuanya terjadi begitu saja, seperti
bunga yang kembali mekar dan menyeruak mewangi memenuhi ruang hati. kini
aku tau, bahwa selama ini aku telah sangat salah, terus saja diri ini
mengeluh, terus saja diri ini menuntu yang lebih baik, dan selalu
mencari jalan instan, seharusnya rohani ini bisa mencari dimana aku bisa
memecahkan yang aku keluhkan menggantikkannya dengan kenyamanan,
harusnya aku bisa mengambil pelajaran.
Jumat, 28 November 2014
Bulan telah melaksanakan tugasnya, ia datang untuk menemaniku malam itu. aku berdiri dihadapan jendela masjid yang sedari tadi terbuka, lihatlah bintang bintang itu begitu banyak, mereka bersinar amat terang, mereka tersenyum ceria, semilir angin itu mengelus pipi kanan dan kiriku bergantian, sedang mataku tetap menatap pada luasnya angkasa raya. "apa yang sudah aku lakukan? sekarang raga ini berada disini, disuatu tempat yang terpernah terdetik sekalipun dalam sensor memoriku? lalu akan aku apakan semua mimpi ku ?" seketika air itu memenuhi sudut kelopak mataku, sedetik kemudian ia jatuh mebasahi permukaan pipiku.."teh sae, kenapa ?" sosok itu akhirnya menghampiri, angin malam membuat mukena putih bermotif bunganya terbang, ditangannya erat menggenggam mushaf berwarna cokelat, ya. Dengan segara tangan ini menyapu lelehan airmata itu. "gak apa apa ko iang" balasku, tak lama kemudian mu'adzin mengumandakan adzan isya, kami segera bersiap maju untuk membuat shaf sholat. rupanya kening iang masih mengkerut, matanya masih memberi isyarat tanda tanya.
Selepas sholat isya, sholat rawatib dan mengaji quran, semua santriwati harus kembali ke asrama putri, sepanjang jalan tak ada sepatah kata yang terucap antara kita berdua, ya antara aku dan iang.
Selepas sholat isya, sholat rawatib dan mengaji quran, semua santriwati harus kembali ke asrama putri, sepanjang jalan tak ada sepatah kata yang terucap antara kita berdua, ya antara aku dan iang.
Langganan:
Postingan (Atom)