Minggu, 29 Juni 2014

Ia ingin setia

Fajar itu kembali menampakkan ketaatan
Ia datang dengan nur yang di ridhai oleh Tuhan
Selayaknya jemari ditangan
Ia mencoba rangkul apa yang tak mampu ia genggam
Tapi mengapa ?
Rupanya Ia ingin setia, ia ingin bahagia
Ia ingin memberikan segalanya
Ia ingin memberikan seutuhnya
Ia ingin persembahkan yang sempurna
Tapi pada siapa ?
Bukan pada luasnya langit di angkasa
Bukan pada dalamnya samudra lepas disebrang sana
Bukan pada daun jatuh yang putus asa
Lalu pada siapakah gerangan ia akan menghamba ?
Pada pemilik  cahaya ia akan mencinta
Pada Penguasa langit ia akan meminta
Pada yang mulia ia akan memuja
Sungguh, adakah yang lebih luas kasih sayangnya ?
Adakah yang lebih besar ampunannya?
Adakah yang lebih kuat kuasanya ?

Sungguh, tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa

Izinkanlah aku mencintaiMU

Izinkan aku menyimpan rasa ini untukMU
Izinkan aku memendam rindu ini kepadaMU
Tuhanku
Sesungguhnya diri dan hati ini belum sanggup
Untuk bertemu dan bersanding denganMu
Namun, asa ini juga tak lagi mampu
Membendung rindu untuk bersua denganMu
Izinkanlah hati ini,untuk berada dekat dengan cahayaMu
Izinkanlah lisan ini untuk tetap menyebut asmaMu
MumujaMU
Oh Tuhanku
Apa daya hamba tanpaMu
Pada siapa segumpal daging ini akan mengadu
Jika Engkaulah satu satunya pemberi rahmat dan ampunan itu
Bagaimana bisa aku sanggup jauh dari rangkulMU
Jika Engkau adalah segalanya untukku
Oh Tuhanku

Izinkanlah aku mencintaiMU

Selasa, 24 Juni 2014

Engkau mawar yang dirindukan si kumbang ya Ramadhan..


Semburat mega merah di penghujung sya’ban
Menarik garis indah yang melintang
Terlukis diatas kanvas langit nan menawan
Menyembunyikan pesan dari sang matahari terbenam
Rupanya ke elokkan itu kan kembali bertandang
Bersanding kemulian ia segera datang
Tak lupa rahmat beserta ampunan
Setali menjadi buah tangan
Jauh melintasi bintang dan harapan
Ada do’a yang terpanjatkan, dari lisan seorang hamba beriman
Rupanya ada hal yang kian ia rindukan
Duhai apakah yang dirindukan si Fulan ?
Duduklah dan dengarkan
Daku mendambakan hari, dimana setiap detik berjalan beriring, dengan kebajikan dan keberkahan
Manusia berlomba mengejar trofi kemenangan
Walau susah menangkal bujuk rayu si syetan
Walau payah menahan lapar dan kehausan
Marhaban yaa Ramadhaan, Marhaban yaa Ramaadhan....
Istimewanya engkau
Allah berkenan menitipkan malam seribu bulan di serangkai malam indahmu,
Dia, Allah telah memilihmu sebagai bulan sempurna, saat mukjizat Agung Al Qur’an diturunkan sebagai pedoman
Allah simpan disela hari-harimu disetiap hela waktumu, limpahan ganjaran bagi hamba yang setia menjalankan suruhan dari Sang Pencipta Alam
Engkau mawar yang dirindukan si kumbang
Engkau telaga asri penumpas dahaga kehausan
Engkau pohon teduh nan rindang
Ditengah padang hangus, para musafir jadikan kau sebagai naungan
Tempat merenung, terpejam memikirkan arah jalan
Agar tak sesat untuk kembali pada kefitrahan
Marhaban yaa Ramadhaan, Marhaban yaa Ramadhaan ...

Cintaku pada Allah, benarkah ?

"Menurut suatu pendapat disebutkan bahwa konon hewan unta bila sedang dimabuk rindu, tidak mau ,menyantap pakannya selama 40 hari, meskipun membawa beban berkali kali lipat dari kebiasaannya. Demikian itu karena bila dalam hatinya teringat kepada sang kekasih yang dicintainya, ia tidak suka makan dantidak memperdulikan beban berat yang dibawanya karena rindu kepada kekasih yang dicintainya.

Apabila karkater hewan unta memang seperti itu, rela meninggalkan kesenangannya dan tidak memperdulikan beban berat yang dipiulnya demi kekasih yang dicintainya, maka apakah kamu mau meninggalkan kesenangan yang diharamkan karena Allah ? Maukah kamu meninggalkan makan dan minum karena Allah, maukah memikul beban yang berat bagi dirimu karena demi karena Allah ? Jika kamu tidak mau melakukan suatu kebaikan dari apa yang telah kamu sebutkan, berarti pengakuanmu yang mengklaim bahwa dirimu cinta kepada Allah hanyalah sebutan belaka tanpa makna, tak memeberi manfaat baik di dunia maupun di akhirat, dan tak berguna dihadapan mahluk terlebih lagi dihadapan Allah Yang Maha Menciptakan."

Sumber : Buku MENGUAK RAHASIA QOLBU karya Muhammad Ibnu Muhammad Al Ghazali (Imam Al Ghazali), wafat tahun 505 H.