Lama daku bersamamu,
Banyak salah kuperbuat terhadapmu,
Sedikit balas atas senyum tulus disetiap kita bertemu,
Tak banyak sapa terucap, hanya kata yang menyayat
Sungguh, tawa bahagiamu, tangis sendu, cerita seru,
enggan pergi dari ingatan, dan tak akan pernah pergi
duduk bersama, sekedar untuk bercerita tentang si dia
atau diskusi materi tak kunjung ketemu jua
atau bahkan menyontek untuk dapat selesaikan tugas kita
bisa saja untuk mainkan tokoh dalam laptop terbuka,
seketika rapih saat guru datang
walau masih ada tawa yang tersisa
masih ada laptop yang terbuka
masih sibuk bercerita
berusaha usap air mata
bersembunyi habiskan jajanan dibawah meja
guru mulai bicara panjang lebar
tapi mata masih saja tetap beredar
tak bisa tahan walau diam sebentar
inginnya untuk cepat cepat bubar
karena kantuk telah menjalar
kecewa saat waktu terasa begitu lama
sedang asa tengah meronta
jari pegal tak kuasa
wajah kusam tak berselera
bunyi bel masih lama saja
tambah tugas yang mengalir begitu derasnya
tanpa pikirkan beban yang murid derita
walau begitu, itu tetap kewajiban kita
esok lusa, penentu itu pasti datang
selembar kertas tertulis nama dan keterangan
berhasil maju atau gagal menetap
berlanjut atau diam ditempat
tak bisa tidur pikirkan masa depan
akan kemana kaki dilangkahkan
akan kemana diri dibanggakan
do’a tak henti dipanjatkan
berharap semoga terkabulkan
sinar mentari pagi tersenyum hangat
optimiskan hati yang tak bersahabat
hari ini hasilnya tak akan datang terlambat
hati semakin gentar saat jarak semakin dekat
lagi lagi air itu basahi pipi, merahkan bola mata
entah muncul karena bahagia di dada
atau kecewa akan hasil yang tak senada
yang pasti kita telah berhasil semua
sekolah sepi, semua orang telah pergi
dengan kertas dalam amplop tersimpan rapi
semua bergegas bersama teman sehati
berbincang sepanjang jalan tanpa henti
tiba tiba seorang berkata “kini, kita sudah jadi Alumni”
ada yang tersirat, dalam benak
bukan kabar baik, yang ku kira
teringat setiap pertemuan pasti ada pisahnya
kembali peluk terasa erat
lepaskan tangan amatlah berat
secepat ini kah ?
bahkan air mata ini pun belum kering
malah terus saja berurai
seperti memaksa untuk keluar
terlambat, “selamat tinggal” terlanjur terucap
terpaksa, harus ku lambaikan tangan
tanda pertemuan telah usai
mengapa begitu menyakitkan ?
yakin, kita pasti bertemu lagi
saat semua telah berubah
menjadi cantik, dan menawan
menjadi ganteng, dan mapan
berjanjilah untuk kembali,
bawa kesuksesan yang kau dapati
banggakan prestasimu selama ini,
dan ku harap kalian selalu ingat diri hina ini