Jumat, 28 November 2014

seharusnya aku bisa mengambil pelajaran

Malam mulai kehadiran bintang bintang, bulan sabit menggantung indah di gelapnya angkasa, lukisan Sang Pencipta membuat bibir ini tak berhenti berucap subhaanAllah luarbiasa...
Lampu masjid masih menyala,  dilantai dua para santriwati  masih bersemangat melantunkan ayat suci Al Qur'an, merdu firman firman Allah ini lantang dibacakan, tiba  tiba suara itu datang memecah keriuhan "semuanya sekarang adalah malam pelantikan staf ikatan santri putri dan staf ikatan santri putra" semua diam, senyap, kepalaku pun mengangguk, aku mengerti dalam hati aku berucap "akhirnya pelantikan itu datang".
pelantikan dipesantrenku merupakan pembai'atan atau perjanjian antara staf yang telah terpilih dengan pihak pesantren. Ternyata tahun ini, untuk masa jabatan kali ini, aku terpilih menjadi salah satu dari staf ikatan santri putri yang selanjutnya disingkap ISPI, dan itu berarti malam ini aku akan berbai'at pada pesantren disaksikan oleh pembina pesantren dan seluruh santri putra maupun putri. Jangan tanyakan perasaan ku malam itu, proses bai'at bukanlah hal yang biasa bagiku, ba'at merupakan janji dan tanggung jawab besar baik itu terhadap pesantren dan sudah barang tentu dengan Allah SWT.
Semua santri putri dan putra berkumpul di lantai satu masjid, putra di shaf paling depan dan putri ada di shaf paling belakang,  para pembina, dan koordinator pembina memasuki ruangan, "ciee teh sae nanti bakal resmi jadi staf " ujar raihan "yah, semoga aku bisa menjalankan amanah ini" jawabku pelan. Koordinator pembina maju kedepan untuk membuka acara pelantikan ini, acara selanjutnya adalah pembacaan surat keputusan, entahlah pikiranku  sedang tak bersama ragaku, yang paling ku ingat "bagi nama - nama yang disebut dibawah ini harap maju kedepan" yang pertama kali dipanggil adalah ketua ikatan santri putra yang selanjutnya disingkat menjadi ISPA, nama nama selanjutnya merupakan jajaran staf di ISPA, tibalah pembacaan ketua ISPI dan stafnya, hati ini semakin berdebar ketika koordinator pembina memanggil namaku "Bidang Penalaran intelektual, Saevany Nur'azizah dan Indah Pertiwi, " tubuh ini akhirnya bangun, kaki ini melangkah maju, bergabung berssama jajaran staf yang lainnya, hati ini terus berkata seakan memberikan peringatan "beberapa menit lagi dirimu akan mengikrarkan janji ! " dan benar saja setelah semua staf telah dipanggil dan maju kedepan, tangan koordinator pembina membuka kertas selanjutnya, dan mulai membacakan satu persatu point janji yang harus kami ikut ucapkan, setiap janji itu terucap kepala ini semakin menunduk seakan semakin berat beban yang ada dipundak dan dan sampailah pada kalimat "innaasholaatii wanusuukii, wamahyaya wamamatii lillahi rabil 'alamiin, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku, untuk tuhan semesta alam, point yang terakhir yang membuat hati ini bergetar, mampukah aku ? bisakah aku ? besarnya tanggungjawabku dihadapan MU.
acara selanjutnya adalah pesan atau amanat dari pembina, yang hadir di mesjid ada 2 orang pembina laki laki yang memberikan amanat, salah satu dari mereka menyampaikan sesuatu yang aku cari selama ini, seakan ustadz  tau isi hatiku, dan segala pertanyaan dalam segumpal daging ini, apa yang beliau sampaikan begitu sempurna menjawab seluruh pertanyaan hati ini, menyelesaikan kerisauan selama aku berada di pesantren ini, beliau berkata "jika kalian bilang asrama ini, kurang ketat, kurang rame, atau apapun itu maka seharusnya kalian tidak  mengatakan seperti itu, itulah tugas kalian disini, menjadikan ispa ispi lebih ketat lebih rame, dan pasti lebih baik lagi" . cahaya itu seakan datang dan memberi salam, aku tahu cahaya itu pasti tak pernah meninggalkanku, ia kini kembali mengukir seyum dihati ini. Allah telah menitipkan pesannya melewati ustadz di acara malam pelantikan. semuanya terjadi begitu saja, seperti bunga yang kembali mekar dan menyeruak mewangi memenuhi ruang hati. kini aku tau, bahwa selama ini aku telah sangat salah, terus saja diri ini mengeluh, terus saja diri ini menuntu yang lebih baik, dan selalu mencari jalan instan, seharusnya rohani ini bisa mencari dimana aku bisa memecahkan yang aku keluhkan menggantikkannya dengan kenyamanan, harusnya aku bisa mengambil pelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar